Powered By Blogger

Rabu, 21 Desember 2011

Karbu Standar Pilihan, Dilacak Mekanik Korek Harian




Karbu Shogun 125SP lebih tebal. Enak direamer(kiri). Venturi bisa direamer besar(kanan)
Karburator venturi besar, jadi primadona penikmat adu kebut. Apalagi kalau kapasitas silinder dan durasi kem sudah didongkrak. Ganti atau atau modifikasi karbu jadi solusi paling tepat.

Namun sampai saat ini masih didominasi karbu racing berkelas. Harganya pun cukup mahal, lantaran di dalamnya didukung fitur-fitur canggih. Sehinga agak merepotkan pemilik motor berdana minim.

Namun bukan berarti karburator yang dipakai di motor standar enggak bisa diaplikasi. Walau enggak semua, tapi ada beberapa yang bisa dan banyak dipakai para tunner.

“Untuk motor bebek korek harian, karburator paling diburu punya Suzuki Shogun 125SP. Mereknya Mikuni VM18SH dengan kode 20G. Atau punya New Smash 110 kode 09H. Sama-sama Mikuni VM18SH. Selain itu ada juga Karburator Karisma, meskipun tidak semua menyukainya,” ujar Alif Bowo Sarwono, pemilik bengkel bubut Adhi Jaya Tech di Jl. Tole Iskandar Raya, Depok.

Lanjut Alif, kelebihan karburator Shogun 125SP atau New Smash 110, karena memiliki venturi lebih besar juga tebal dagingnya. Itupun jika dibandingkan dengan kepunyaan motor lain, tetap lebih menguntungkan. Misalnya dengan karbu Yamaha Jupiter-Z yang pakai Mikuni VM17SH, diameter venturinya lebih kecil 1 mm.

Makanya kalau mau direamer, kata Alif, karbu Shogun 125SP bisa sampai 22 mm ke atas dan ke samping 19 mm dari 15 mm. Bahkan kalau mau bore up piston skepnya, tanpa ganti bodi (alias bodi asli) bisa sampai diameter 20 mm dari aslinya. Cuma piston skep mesti bikin baru karena tidak ada gantinya.

Karbu Karisma masih terlalu mahal untuk jadi pilihan
“Tak hanya itu, karbu Shogun 125SP juga mudah didapat dibanding produk lainnya. Sehingga harganya relatif terjangkau buat semua kalangan. Apalagi jumlah lubang pada nozel di atas spuyer main-jet lebih banyak. Sehingga debit bahan bakar makin deras,” timpal Hari Novrian, mekanik Hari Motor di Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Selain kedua karbu tadi, komponen pengkabut gas bakar yang asli Suzuki Axelo 125 juga bisa jadi pilihan. Kata Roby Krisbiyanto, mekanik Bontot Jaya Motor, karbu yang rumah cuknya sebelahan dengan lubang piston skep itu bisa direamer hingga ukuruan 25 mm dari 18 mm (asli). Pasalnya lubang dan piston skep Axelo 125 lebih panjang dari lainnya.

“Cuma biar bisa sampai ukuran segitu (25 mm), rumah cuk mesti dicustom. Sehingga kerja cuk piston yang berada di sebelah piston skep tidak bisa lagi difungsikan,” timpal mekanik yang buka bengkel di Jl. Amal No. 37, Pondok Bambu, Jakarta Timur.
Karisma Dan TVS
Pemilik motor Honda tak perlu kecil hati. Karburator pilihan buat kohar bisa pakai pengkabut punya Honda Karisma. Memiliki diameter venturi asli 19 mm dan konstruksi yang bagus. Bisa direamer sampai ukuran 24 mm, lho.

“Lebih bagus dan bisa direamer tinggi karena semua lubang aliran ada di bawah. Cuma sayang, harga karbu masih mahal juga sulit didapat,” lanjut Alif. Dan selain karbu Karisma, dia juga pernah mereamer karbu motor bebek merek TVS meskipun enggak tahu tipenya. Tapi, ubahan yang dilakukan sama persis dengan Honda Karisma.
 (motorplus-online.com)
Penulis : KR15 | Teks Editor : Nurfil | Foto : Boyo

Jangan Sembarang Ganti Spuyer di Motor 4-tak!




Banyak yang latah, motor 4-tak kerap disamakan dengan 2-tak. Seperti motor standar banyak yang gonta-ganti spuyer. Misalnya diganti lebih besar supaya tenaganya melonjak.

Padahal, motor 4-tak sudah dilengkapi klep. Suplai gas bakar diatur oleh klep isap dan buang. Jadinya ukuran spuyer cenderung konstan.

Kalau motor standar ganti spuyer dengan ukuran lebih besar, malah kerap ngedrop tenaganya. Karena suplai bensin lebih banyak daripada udara.

Akibat bensin yang terlalu kaya, jadinya tidak terbakar semua. Ledakan yang dihasilkan pembakaran malah lebih kecil. Otomatis tenaga mesin pun tidak besar.

Repotnya lagi, tidak hanya boros bensin, akibat pemakaian spuyer yang terlalu besar bisa menghasilkan kerak. Ruang bakar jadi kotor dan harus cepat servis besar.

Termasuk motor standar yang hanya ganti knalpot racing. Spuyernya belum tentu harus ganti. Cara mengeceknya harus perhatikan kepala busi hasil pembakaran.

Jika warnanyanya masih merah bata apalagi ada kerak hitam, tidak perlu ganti spuyer dulu. Kecuali jika warna elektroda busi putih. Petanda spuyer harus naik.
 (motorplus-online.com)
Penulis : KR15 | Teks Editor : Nurfil | Foto : Dok.Motor Plus

Selasa, 06 Desember 2011

Yamaha Mio, 250 cc Paking Selembar




Ini tantangan yang menarik. Mengorek Yamaha Mio sampai extrem tapi tampilan mesin terlihat standar dengan yang powernya bengis. Itulah cara yang dilakukan Chandra Sopandi dari bengkel bubut Master Tjendana, Bandung. 

Merakit Yamaha buat untuk balap liar sekaligus drag resmi. Chandra akali supaya bisa mendongkrak kapasitas silinder sebesar-besarnya namun tampilan mesin standar. Caranya ditempuh dengan bore up dan stroke up tapi paking masih selembar.

Aksi bore up paling gampang ditempuh. Tekniknya aplikasi seher besar yang dicomot dari Honda CBR 150R. “Dipilih yang punya diameter 67,5 mm,” jelas pebengkel yang bermarkas di Jl. Pagarsih, No. 146, Bandung itu.

Wah, besar banget ya. Itu sih sama saja dengan aplikasi seher CBR 150R oversize 400. Kan standarnya hanya 63,5 mm. Tapi, tidak aneh karena seher besar ini sudah banyak di pasaran.

Selanjutnya Chandra berpikir agar naik stroke besar tapi paking blok tetap standar alias selembar kertas. Sebab kalau menggunakan seher CBR dan setang seher standar, kenaik tertinggi maksimum 6 mm. Chandra mau yang lebih extrem lagi.

Lantas Chandra berpikir menggunakan setang seher yang lebih pendek dari asli Mio. Namun dipastikan piston akan mentok bandul kruk as ketika posisi TMB (Titik Mati Bawah).

Supaya aman, Chandra memang pilih setang seher yang lebih pendek. Tapi, big end dipilih yang lebih kecil. Teknik naik stroke tidak menggunakan pen stroke. Dia lebih memilih menggeser lubang big end di bandul kruk as.

Akhirnya melalui perhitungan yang matang dan beberapa kali percobaan didapat hasil memuaskan. “Korbannya beberapa seher pecah akibat menabrak bandul kruk as,” jelas Chandra yang sudah mengorbankan 4 seher untuk riset.

Kini stroke atau langkah seher sudah naik lumayan extrem. Sudah lebih naik 12 mm. Jadinya kapasitas silinder bisa dihitung. Menggunakan kalkulator dipadukan dengan diameter seher yang 67,5 mm, maka kapasitas silindernya jadi 250 cc.

Suatu angka yang lumayan besar. Namun dari beberapa kali tes dengan jarak 201 meter belum didapat waktu yang mendekati motor-motor 300 cc Thailand. Mungkin karena berat joki.

Tapi, untuk ukuran motor balap liar bisa dibilang lumayan. Tinggal seting rasio dan komponen CVT. Menyesuaikan jarak yang akan ditempuh. Kini rasi sudah menggunakan ukuran 15/38 karena untuk trek 201 meter.

klep 34/30
Sebagai tukang pasang klep besar, dipastikan mudah aplikasinya. Untuk kapasitas silinder yang sudah buncit, Chandra memilih menggunakan klep isap 34 mm. Sementara klep buangnya pilih yang 30 mm.

Lubang isap dikorek sampai dengan 31 mm. Untuk lubang buangnya dibikin jadi 28 mm. Suplai bahan bakar menggunakan karbu Mikuni 30 mm. Jenisnya jadul abis karena pengabut bahan bakar tipe ini sempat ngetop sebelum karbu RX-King beken.

Spuyernya diseting sesuai suhu Bandung. Main-jet menggunakan ukuran 135 dan pilot-jet 35. Ukuran spuyer ini tanpa reamer karburator. 

Untuk per klepnya menggunakan pegas punya Honda Sonic. Namun dimodifikasi lagi supaya punya lift yang lebih tinggi. Juga supaya lebih keras lagi.

Paling penting lagi, penggunaan knalpot. Kata mekanik nyentrik ini, pilih menggunakan buatan dewek. Bentuknya lebih panjang yang katanya lebih bertenaga di trek panjang.
 (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Roller : Rata 12 gram
Rumah roller: Big pulley
Per CVT : 2.000 rpm
Ban belakang : Eat My Dust 60/90-17 
Master Tjendana: 0811-22-7871

Penulis : Aong | Teks Editor : Nurfil | Foto : Istimewa

Minggu, 04 Desember 2011

Nih Dia, The King Honda Otocontest 2011



Setelah melewati serangkaian penilaian yang ketat, akhirnya terpilih tiga motor modif terbaik sebagai "The King of Honda Otocontest 2011". Masing-masing disabet oleh Agus Umara (The King Non Extreme), Ida Bagus Teja (The King Of Fashion) dan Agus Ficdianto (The King Extreme).

Agus Umara, modifikator asal Bali ini berhasil menyulap Supra X125 keluaran 2006 menjadi bebek futuristik. "Saya terinspirasi film transformer. Mengadopsi motorize. Sekali tekan tombol, lampu depan dan jok bisa terbuka sendiri," ujar Agus yang menggawangi Hanya Planet Customice (HPC) Bali.

Body motor jawara The King Non Extreme ini mengandalkan fiber. Uniknya, cetakan body fiber menggunakan karton. Pelek juga murni handmade. Total modif sekitar Rp 23 jutaan.   

Juara The King Extreme menggunakan CS1 2008 mengusung konsep advance retro modern. "Tidak pakai rantai alias hubless serta hybrid. Bisa tenaga mesin dan dynamo. Girbox penggerak roda belakang serta bearingnya handmade. Sudah test drive 15 km tak ada masalah. Biaya Rp 15 jutaan," jelas Agus Ficdianto, pemilik Alfasiera Custom Surabaya.

Sedangkan Blade 2009 milik Ida Bagus Teja yang juga asal Bali melakukan trans body. Beberapa body motor dijadikan satu. Depan New Blade, belakang New Mega Pro. Tapi kreasi yang memakan biaya Rp 15 jutaan ini sanggup memenangkan The King Of Fashion.

Atas gelar tertinggi dalam Honda Otocontest tersebut, ketiganya berhak atas jalan-jalan ke Bangkok International Motorshow 2012. "Semoga tahun depan bisa mempertahankan gelar ini dan bisa bersaing di kejuaraan modif internasional," harap Ida Bagus Tedja pemilik Bagus Custom dan masih berstatus sebagai mahasiswa. (motorplus-online.com) 

Penulis : AZ | Teks Editor : Nurfil | Foto : AZ

Final Battle Honda Otocontest, Jawara Dikirim Ke Bangkok



Mewadahi sekaligus memancing kreatifitas anak muda pemakai motor Honda, PT Astra Honda Motor (AHM) menggelar event rutin "Honda Otocontest" (HOCS).

Kegiatan pameran modifikasi motor ini sudah digelar sejak 2009 silam dan pada tahun ini, HOCS digelar di 12 kota besar Indonesia. Jumlah peserta pun terus meningkat. Tercatat sebanyak 1.415 motor Honda modifikasi ikut ambil bagian dalam HOCS 2011.

"Sebagai pabrikan motor terbesar, sudah sepatutnya kami turut menyalurkan bakat kreatifitas anak muda di dunia modifikasi sepeda motor. Kontes modif semacam ini juga sangat bagus untuk menangkap trend modifikasi motor yang sedang digemari. Bahkan bisa menjadi bahan pertimbangan dalam desain motor baru selanjutnya," ujar Auddie A. Wiranata, Direktur Marketing, PT AHM.

12 kota yang sudah menggelar HOCS 2011 antara lain Jakarta, Bandung, Palembang, Tulungagung, Denpasar, Medan, Malang, Banjarmasin, Yogyakarta, Kediri, Jember dan Surabaya. Tahun sebelumnya HOCS hanya digelar di 10 kota.

HOCS membuka 13 kelas yaitu Pemula, Matic Custom, Matic Racing, Matic Funky, Bebek Custom, Bebek Funky, Extreme, Racing Look, Sport Non Fairing, Transfer Body, Asesoris dan Sport Funky.

Sebagai puncak acara, dipilih Kenjeran Park, Surabaya untuk menggelar final battle HOCS 2011 bersamaan dengan partai final Honda Racing Championship 2011 (4/5).

Peserta final battle adalah juara 1 di tiap kelas dari masing-masing kota dan akan dipilih 3 orang pemenang untuk dinoatkan sebagai King Extreme, The King Non Extreme dan The King of Fashion.

"Melihat animo peserta dan beragamnya kreatifitas anak muda dalam mendandani motor Honda, event ini masih akan berlanjut tahun depan. Minimal jumlah event-nya sama seperti tahun 2011," tambah Indrapura, General Manager Marketing Planning and Analysis Division, PT AHM.

Lebih lanjut, Indrapura menyampaikan bahwa para pemenang HOCS 2011 akan diajak menyaksikan event Bangkok International Motorshow 2012.

Bahkan para juara akan diberikan kesempatan ikut serta dalam acara Honda Modification Contest di Bangkok International Motorshow 2012 untuk bertarung dengan modifikator negeri gajah putih. (motorplus-online.com)    

 
Penulis : AZ | Teks Editor : Nurfil | Foto : AZ

Sabtu, 03 Desember 2011

Honda New Blade 110cc Versi Balap makin mengkilappppp…………. !!!

blade 110 racer (motorplus.otomotifnet.com)

Well segala sesuatu kalau dimodif emang kerennnn …sesuai dengan lansiran awal blade 110 yang bernuansa motoGP Repsol,tampaknya honda juga memberikan inspirasi kepada biker tanah air yang suka modifikasi tunggangannya.. menjadi style balap.. seperti diberitakan motorplus.otomotifnet.com pihak AHM menyajikan suatu racikan motor racing look yang ciamik…
Dengan beberapa ubahan tampaknya tambah keren juga neh…

serba lancip (motorplus.otomotifnet.com)
  • Ban slick
  • Shock belakang Showa
  • Footstep Yoshimura
  • Disk brake depan lebar
  • Indikator takometer
racikan balap(motorplus.otomotifnet.com)

Jumat, 02 Desember 2011

Pilihan Segitiga + Setang Drag: Dua Pilihan Setang!


 
Obat untuk tampilan merunduk
Pacuan karapan trek lurus, selain tampil kurus juga cenderung lebih merunduk. Tujuannya, demi mengurangi hambatan angin. Tapi, tidak melupakan faktor handling. Sehingga, waktu tempuh yang semakin cepat.

Selain rangka dibuat lebih mundur, setang juga ikut menyesuaikan. Jika biasanya setang dipotong untuk mengejar desain lebih pendek dan merunduk, kini tidak lagi. Buat motor drag, terutama skubek, sudah terdiri dari beberapa pilihan.

“Mau model biasa atau model jepit ke as sokbreaker depan,” ujar Denny Jonathan dari Kodok Racing di Jl. Rajawali Selatan, No. 12A, Jakarta Pusat.

Dari model yang biasa dulu ya! Maksudnya biasa, banyak pedagang alias pedege menyebutnya model setang sepeda. Itu karena part pengendali laju ini mengaplikasi stem alias raiser pegangan setang milik sepeda. Khususnya, sepeda MTB.

Setang sendiri, mengadopsi bahan dari aluminium. Maka itu, bobotnya tergolong ringan. Di pasaran, setang berikut stem dijual Rp 650 ribu. “Enaknya pakai setang model ini, tidak perlu mengganti sok depan segala,” timpal Denny yang sering bolak-balik ke Thailand.

Berbeda jika sobat memilih setang model jepit. Namanya jepit, tentu butuh as sok lebih panjang dari standar. Jadi, tidak hanya setang aja yang diganti. As sok depan juga ikut disesuaikan.

Kalau yang ini, membuat desain sok depan bergaya ayam jago atau motor sport. “Buat setang, juga memakai bahan aluminium. Peletakannya, biasanya di bawah segitiga atas,” bilang Utomo dari Tomo Speed Shop di Mega Glodok Kemayoran (MGK), Lt. GF, Blok. A-12, No. 1, Jakarta Pusat.

Baik Denny atau Utomo, menjual setang model ini di kisaran Rp 350-450 ribu. Oh ya! Menurut Denny untuk akali sok depan, as sok bisa aplikasi milik Suzuki Satria F-150. “Enggak usah pakai yang asli. Bisa pakai imitasi aja. Sekitar Rp 120 ribuan sepasang. Kalau tabungnya, pakai asli bawaan motor. Misalnya, Yamaha Mio,” jelas Denny yang bisa dikontak di (021) 6453386.

Jika aplikasi setang jepit, sebaiknya diikuti dengan mengganti segitiga juga. Ada dua pilihan untuk segitiga set. Maksudnya, lengkap segitiga atas-bawah. Pertama, segitiga milik Honda Sonic berbahan aluminium yang sudah dimodif. Harga jual, Rp 800 ribu.

Pilihan kedua, segitiga set hasil CNC dengan model yang sama seperti Sonic. Bahan yang dipakai juga dari aluminium. Harga yang ditawarkan, Rp 700 ribu di Kodok Racing. Tapi, jika hanya ingin aplikasi setang sepeda, bisa lirik segitiga bawah saja yang dijual Rp 750 ribu sudah termasuk as komstrir.

Karena bahan dari aluminium, tentunya bobot juga tergolong ringan. Oh ya, kembali ke setang. Dari kedua setang yang ditawarkan tadi, tentu punya perbedaan soal handling.

"Setang sepeda cenderung lebar dari setang jepit," beber Tomo yang bisa dikontak di (021) 93527958. Tapi, itu semua kembali ke racer sendiri. Sebab ada yang lebih percaya diri dengan setang model jepit dan ada juga yang terbiasa model lebar. Pilih mana?  (motorplus-online.com)
 
Penulis : Eka | Teks Editor : Nurfil | Foto : GT